Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Presiden AS Donald Trump menyampaikan ultimatum keras terhadap Iran di tengah konflik yang telah berlangsung selama hampir tujuh bulan. Trump mengancam akan “memusnahkan” Republik Islam tersebut jika kesepakatan damai tidak segera dicapai, sembari mengungkapkan adanya pertemuan tak terduga antara pejabat AS dan Iran di sela-sela Sidang Umum.
Di luar ketegangan pidato utamanya, Trump mengonfirmasi bahwa utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, menggelar pertemuan selama tiga jam dengan para pejabat Iran.

Pembicaraan dilakukan secara tidak langsung melalui mediator dari Qatar dan Pakistan yang menjembatani kedua belah pihak.
Witkoff menyatakan harapannya agar dialog tersebut “konstruktif dan menjanjikan,” sementara Trump menyebut diskusi berlangsung sangat baik meski dihadiri oleh pejabat tingkat menengah Iran.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa Trump tetap terbuka untuk memfasilitasi pertemuan langsung dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, guna mencari jalan keluar dari krisis.
Membela keputusannya memulai operasi militer terhadap Iran, Trump menegaskan bahwa Rezim Teheran kini berada dalam posisi yang sangat lemah dan terdesak akibat blokade ekonomi serta hancurnya aset militer utama mereka.
“Saya harus membuat keputusan besar: Apakah akan ada kesepakatan yang memungkinkan Iran bangkit kembali sebagai negara yang lebih baik, atau haruskah saya memusnahkan Republik Islam itu dengan cepat?” tegas Trump di hadapan delegasi internasional.
Sembari menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz, Trump juga menggelar pertemuan khusus dengan para pemimpin Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), termasuk Arab Saudi, Qatar, UAE, Bahrain, Kuwait, Oman, serta Yordania untuk membahas langkah strategis penanganan krisis energi global akibat penutupan jalur pelayaran utama oleh militan pro-Iran.
Selain fokus pada Iran, pidato komprehensif dan rangkaian agenda diplomasi Trump di PBB mencakup beberapa poin kunci.
Trump menandatangani perjanjian keamanan baru bersama PM Denmark Mette Frederiksen dan PM Greenland Jens-Frederik Nielsen. AS dipastikan akan membangun dua pangkalan militer besar di Greenland, dengan status wilayah yang tetap berada di bawah kedaulatan Denmark.
Trump mengadakan serangkaian pembicaraan dengan pimpinan dunia lainnya, termasuk PM Inggris Andy Burnham, PM Jepang Sanae Takaichi, Presiden Korsel Lee Jae Myung, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, hingga Penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodríguez.
Trump menyuarakan kejengkolannya atas stabilitas pasar energi yang terus terganggu. Ia menegaskan telah menandatangani UU sanksi baru yang memberinya wewenang memberlakukan tarif hingga 100% bagi importir utama migas Rusia jika pertempuran tak kunjung dihentikan.
Dalam pidatonya, Trump juga secara tegas menolak desakan internasional terkait regulasi ketat terhadap perkembangan industri Kecerdasan Buatan (AI). Demikian dilansir dari Associated Press. ***

















