Ajang kompetisi inovasi berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026, resmi mengumumkan para pemenang puncaknya di Jakarta.
Tahun ini, gelar juara utama kategori SMA/SMK/MA diraih oleh tim BryotechAlpha dari SMAN 81 Jakarta melalui inovasi bertajuk AeroSpora. Sementara itu, predikat juara pertama kategori Perguruan Tinggi disabet oleh tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia lewat karya unggulan mereka, NovaSight.

Kompetisi SFT 2026 sendiri berfokus pada tiga pilar tema utama, yakni Teknologi untuk Keberlanjutan Lingkungan (Sustainability & Environment), Solusi Olahraga berbasis Teknologi (Sport & Technology), serta Transformasi Pendidikan lewat STEM dan Kecerdasan Buatan (Education). Melalui tema-tema tersebut, ribuan peserta ditantang untuk memetakan masalah nyata di sekitar mereka dan merumuskan solusi berbasis teknologi mutakhir.
Sejak dibuka, SFT 2026 berhasil menarik lebih dari 4.000 pendaftar dari berbagai penjuru tanah air. Sebanyak 2.600 peserta terpilih mengikuti rangkaian Design Thinking Workshop, sebelum disaring menjadi 40 tim semifinalis yang mendapatkan pembekalan teknis lanjutan berupa pelatihan AI Amplification.
Di babak puncak, sepuluh tim terbaik dari masing-masing kategori mempresentasikan hasil karya mereka di hadapan dewan juri profesional.
“Kami sangat mengapresiasi semangat, kreativitas, dan kepedulian yang ditunjukkan para peserta Samsung Solve for Tomorrow 2026. Kami bangga melihat generasi muda Indonesia mampu mengubah tantangan sekitar menjadi solusi inovatif berbasis STEM dan AI,” ungkap Anggi Paramita, Head of Corporate Marketing, Samsung Electronics Indonesia.
Mengenal Lebih Dekat Karya Para Juara
1. AeroSpora (Juara Kategori SMA)
Berangkat dari keresahan atas tingginya polusi udara di ibu kota, tim BryotechAlpha menciptakan AeroSpora.
Perangkat dinding lumut pintar ini mengintegrasikan fungsi tanaman lumut alami dengan teknologi IoT (Internet of Things) dan AI. Sistemnya dilengkapi sensor real-time untuk memantau kelembaban serta kadar debu, serta mikrokontroler ESP32-S3 berbasis model TinyML untuk memprediksi risiko kekeringan lumut secara otomatis. Menariknya, sistem pengabutan perangkat ini memanfaatkan air hasil kondensasi AC, lengkap dengan fitur dasbor pemantau V.E.R.A dan chatbot edukatif.
2. NovaSight (Juara Kategori Perguruan Tinggi)
Menyoroti kendala yang dihadapi siswa tunanetra dalam memahami grafik dan diagram matematika, tim I-SEUNG merancang NovaSight. Inovasi ini diuji langsung melalui kolaborasi riset bersama SLB Negeri A Citeureup, Cimahi.
NovaSight dibekali lima fitur utama, mulai dari Annoter yang mengubah modul visual menjadi teks naratif ramah pembaca layar, Scriber untuk mencatat langkah pengerjaan, Clarifier sebagai penjawab tanya jawab edukatif, hingga Quizzer dan Evaluaizer yang membantu para pengajar menyusun serta mengevaluasi materi ujian secara inklusif. Dalam uji coba mandiri, siswa tunanetra terbukti mampu menjawab soal dengan akurasi tinggi tanpa pendampingan intensif.
Keberlangsungan program ini turut mendapat apresiasi tinggi dari berbagai kalangan pemerintah. Assoc. Prof. Suparto, Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, menilai bahwa ajang seperti ini membuktikan kapasitas anak bangsa bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, melainkan pencipta inovasi.
Senada dengan hal tersebut, Yuli Haryanto, S.E., M.Si. selaku Direktur Sekolah Menengah Atas Kemendikdasmen RI menegaskan bahwa tolokukur keberhasilan pendidikan modern terletak pada kemampuan siswa mengaplikasikan ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan riil di tengah masyarakat.
Melalui komitmen global bertajuk “Together for Tomorrow! Enabling People”, Samsung bertekad untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah, dunia pendidikan, maupun para praktisi, guna mencetak lebih banyak inovator muda yang membawa perubahan positif bagi masa depan Indonesia. ***


















