Dua tahun lalu, Fernando Nunez rela berkeliling dari rumah ke rumah di bawah terik matahari Arizona demi membantu Donald Trump merebut kembali kursi Gedung Putih. Namun menjelang Pemilihan Paruh Waktu (Midterms), pemuda berusia 22 tahun keturunan Meksiko tersebut enggan memberikan suaranya bagi kandidat yang disokong sang Presiden dari Partai Republik.
“Trump mengkhianati kami. Dia berbalik 180 derajat,” keluh Nunez yang bekerja sebagai tenaga penjualan.

Nunez awalnya terikat pada janji-janji kampanye Trump: menurunkan tingkat inflasi, menghentikan keterlibatan dalam konflik internasional, serta membuka dokumen penyelidikan Jeffrey Epstein secara transparan.
Kini, Nunez menyuarakan kemarahannya atas tertutupnya penanganan kasus Epstein serta aksi militer terhadap Iran yang ia tuduh memicu lonjakan harga energi domestik. “Bensin, asuransi, hingga bahan makanan, semuanya semakin mahal. Kita tidak seharusnya terlibat perang dengan Iran hanya demi kepentingan Israel,” tegas Nunez, yang berniat memindahkan suaranya ke kandidat independen pada pemilu mendatang.
Realita ‘Kejutan Menakutkan’ di Yuma County
Yuma County, wilayah yang berbatasan langsung dengan tembok pembatas AS-Meksiko, merupakan contoh nyata pergeseran peta politik komunitas Latino yang sempat menyokong kemenangan Trump pada Pemilu 2024 dengan keunggulan hingga 20 poin.
Di Somerton, wilayah pertanian yang didominasi warga etnis Latino, sekitar 40 persen penduduknya mengalihkan dukungan ke Trump pada 2024. Wali Kota Somerton, Gerardo Anaya, menilai peralihan tersebut awalnya didorong oleh kejenuhan warga atas lonjakan inflasi dan gelombang migrasi di era pemerintahan Joe Biden.
Namun, harapan itu berubah menjadi kekecewaan bagi warga lokal:
Lonjakan Harga Kebutuhan Utama: Warga mengeluhkan mahalnya bahan pangan lokal seperti carne asada (daging panggang khas Meksiko) serta kenaikan harga solar dan bensin yang mencekik.
Reputasi Pebisnis yang Luntur: Citra Trump sebagai pengusaha sukses tidak lagi ampuh meyakinkan warga. Seorang tukang kebun lokal mengaku kecewa dan enggan kembali memilih Trump.
Razia Imigrasi yang Kontroversial: Meski jumlah pelintasan perbatasan ilegal menurun, razia besar-besaran oleh aparat yang menyasar imigran tanpa rekam jejak kriminal memicu tuduhan bahwa kebijakan tersebut diskriminatif dan rasis.
Dilema Pemilih Latino: Antara Kebijakan Imigrasi dan Nilai Konservatif
Jajak pendapat nasional menunjukkan melemahnya dukungan dari komunitas Latino—fenomena yang coba dimanfaatkan oleh Partai Demokrat untuk merebut kendali atas Kongres. Meski demikian, rasa kecewa terhadap Trump tidak serta-merta membuat para pemilih Latino kembali memeluk Partai Demokrat.
Beberapa isu utama yang membanyangi keputusan pemilih meliputi:
Risiko Keretakan Keluarga: Jaime Sanchez (52), seorang pemilik salon yang awalnya mendukung Trump karena isu penolakan aborsi, kini mengkhawatirkan dampak deportasi massal yang berisiko memisahkan orang tua imigran dari anak-anak mereka yang berstatus warga negara AS.
Sentimen Keagamaan: Jose Manuel Castro (75), seorang pendeta evangelis dari kota San Luis, memperkirakan jemaatnya akan memberikan suara protes dalam pemilu kali ini. Namun, ia menilai kecenderungan pemilih Latino ke arah konservatisme Partai Republik tetap kuat dalam jangka panjang.
“Banyak warga merasa tidak nyaman dengan gagasan kelompok sayap kiri yang memperjuangkan isu aborsi dan hak-hak transgender, karena dianggap bertentangan dengan prinsip keagamaan,” jelas Castro. Demikian dilansir dari AFP. ***






















