Lebih dari tiga dekade, Tatang (warga Desa Sadangmekar, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat) harus terbiasa berbagi satu sambungan meteran listrik dengan kerabatnya. Kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, dari hasil mencari kayu bakar hingga bekerja serabutan, membuatnya tidak pernah leluasa menyalakan perangkat elektronik di rumah.
Bahkan, untuk sekadar menonton pertandingan tim kesayangannya, Persib Bandung, di layar televisi, Tatang kerap harus bertandang ke rumah saudaranya. Keterbatasan tersebut memaksa keluarganya menahan diri menggunakan rice cooker atau setrika demi menghindari risiko korsleting akibat beban berlebih.

Kini, penantian panjang itu akhirnya terbayar. Melalui program Light Up The Dream (LUTD) yang diinisiasi PT PLN (Persero), Tatang resmi mengantongi sambungan listrik mandiri berdaya 450 VA di rumahnya sendiri. Senada dengan Tatang, Caca, warga setempat yang telah dua dekade menumpang listrik keluarga, juga merasakan kebahagiaan serupa setelah bertahun-tahun berjuang sebagai buruh harian lepas.
Kehadiran listrik mandiri tidak hanya membawa terang bagi kediaman Tatang dan Caca, tetapi juga menyalakan mimpi-mimpi kecil yang selama ini tertunda.
Impian Kuliner: Istri Tatang kini menyimpan angan untuk memiliki lemari es sebagai wadah penyimpanan bahan makanan, yang kelak bisa menjadi modal awal merintis usaha katering kecil-kecilan dari kegemarannya memasak.
Kenyamanan Belajar Anak: Putri bungsu Caca, Nadia (siswi kelas 1 SD), tak perlu lagi repot bertamu ke rumah tetangga sekadar untuk menonton televisi, sehingga ia bisa belajar dan beristirahat dengan lebih nyaman di rumah sendiri.
Kepala Desa Sadangmekar, Dede Paridi, mengungkapkan bahwa kendati jaringan PLN telah masuk ke desanya, faktor ekonomi masih menjadi batu sandungan bagi sebagian warga prasejahtera untuk memasang meteran pribadi. Bahkan, di beberapa titik, satu sambungan sempat dipakai bersama hingga enam kepala keluarga.
“Program ini sangat membantu masyarakat kami, sekaligus meringankan beban pemerintah desa dalam memfasilitasi kebutuhan warga kurang mampu,” ujar Dede, sembari berharap program mulia ini bisa diperluas hingga menyasar fasilitas umum seperti PAUD dan posyandu.
Dari total target 2.710 keluarga prasejahtera yang disasar PLN UID Jawa Barat pada momen Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81, sebanyak 11 keluarga di Desa Sadangmekar menjadi salah satu penerima manfaat tahap ini.
General Manager PLN UID Jawa Barat, Muhammad Joharifin, menegaskan bahwa esensi utama program LUTD melampaui urusan teknis penyediaan infrastruktur semata. Bagi PLN, setiap meteran baru yang terpasang adalah gerbang pembuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.
“Bagi sebagian orang, memiliki meteran listrik sendiri mungkin tampak biasa. Namun bagi mereka yang puluhan tahun bergantung pada orang lain, ini adalah mimpi besar yang terwujud. Kami ingin listrik ini menjadi energi bagi anak-anak untuk belajar lebih tenang dan keluarga merintis asa ekonomi dari rumah,” tutur Joharifin.
Gerakan kemanusiaan ini terlaksana berkat kolaborasi solid dan sumbangsih sukarela dari pegawai PLN UID Jawa Barat, Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN, serta sinergi lintas entitas PLN Group, mulai dari PLN UIP JBT, Pusharlis, UIT JBT, PLN Electricity Services, hingga PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Barat. Dari sebutir bohlam yang kini menyala di rumah Tatang dan Caca, sebuah harapan baru resmi dimulai. ***


















