Dua raksasa minyak utama Amerika Serikat, ExxonMobil dan Chevron, mencatatkan kinerja keuangan kuartal ketiga yang melampaui estimasi Wall Street pada Jumat. Lonjakan performa ini ditopang oleh rekor tingkat produksi serta kenaikan harga bahan bakar global akibat disrupsi rantai pasok dan ketegangan geopolitik.
Di tengah ketidakpastian pasar akibat perang di Iran dan Ukraina, Exxon mencatatkan kenaikan produksi yang signifikan di ladang minyak Guyana serta Cekungan Permian (Permian Basin). Sementara itu, Chevron melaporkan kontribusi positif dari operasi investasinya di Venezuela serta rekor aset di Mediterania Timur dan Australia.

Kinerja Operasional Kilang dan Kenaikan Harga Bahan Bakar
Tingginya permintaan energi mendorong kapasitas operasional kilang berada pada level maksimal:
Tingkat pemanfaatan kilang di Pantai Teluk AS (US Gulf Coast) mencapai 100%, memicu produksi diesel tertinggi kedua sepanjang sejarah perusahaan. CEO Exxon, Darren Woods, menyatakan perluasan kilang Beaumont di Texas berhasil meningkatkan produksi distilat hingga 40% sejak 2019.
Kilang-kilang di AS mencatatkan tingkat pemanfaatan sebesar 98% dengan memproses lebih dari 1 juta barel minyak mentah per hari.
Menurut data AAA, harga solar melampaui $6,32 per galon (naik 71% secara tahunan), sedangkan harga bensin reguler melonjak sekitar 38%.
Fluktuasi harga minyak mentah dipicu oleh gangguan rantai pasok di Selat Hormuz akibat konflik Iran, yang mendorong harga minyak Brent dan acuan AS bertahan di atas $100 per barel, bahkan sempat menyentuh $120 per barel pada Maret.
Langkah Stabilisasi Pasar dan Kebijakan Impor Solar Rusia
Guna meredam lonjakan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu (midterms), negara-negara anggota G7 dan Badan Energi Internasional (IEA) berencana melepas ratusan juta barel cadangan minyak darurat ke pasar global.
Di sisi lain, kebijakan Presiden Donald Trump yang mengamankan pasokan solar dari Rusia memicu kontroversi politik. Kongres AS mengkritik keras langkah tersebut karena dinilai melanggar regulasi serta dapat mendanai operasi militer Rusia di Ukraina. Mendasari dinamika tersebut, kapal tanker pertama pengangkut solar asal Rusia dilaporkan telah berlayar menuju AS pekan lalu.
Rincian Kinerja Keuangan Kuartal III
ExxonMobil
Laba bersih melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi $3,72 per saham. Laba disesuaikan mencapai $4,23 per saham (di atas ekspektasi konsensus $4,12 per saham).
Pendapatan naik 33% secara tahunan menjadi $113,16 miliar.
Menaikkan dividen triwulanan menjadi $1,07 per saham dan menetapkan skema pembelian kembali saham (buyback) senilai $20 miliar.
Saham Exxon menguat 1,3% pada perdagangan pagi dan mencatatkan kenaikan 64% dalam 12 bulan terakhir.
Chevron
Laba bersih mencapai $9,9 miliar ($5,06 per saham).
Pendapatan melonjak 36% menjadi $67,8 miliar, melampaui estimasi analis.
Inisiatif strategis berhasil memangkas biaya midstream di wilayah Bakken hingga 50% pasca-akuisisi Hess Corp senilai $53 miliar. Chevron juga mengumumkan rencana investasi $7 miliar selama lima tahun ke depan di Venezuela.
Saham Chevron menguat 1,8% pada perdagangan pagi. Demikian dilansir dari Associated Press. ***




















